Tampilkan postingan dengan label GALI KATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GALI KATA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

MENDAMBAKAN

“Mendambakan” Firman Tuhan


Kata “mendambakan” diterjemahkan dari kata Ibrani y’b (disusun dari huruf-huruf Ibrani Yod-Alef-Bet; dapat dibaca yaab), yang diturunkan dari akar-kata induk ’b (Alef-Bet). Dalam piktograf Ibrani kuno, huruf Alef adalah lambang kekuatan, sedangkan huruf Bet adalah lambang tenda. Gabungan dua gambar tersebut berarti “kekuatan rumah.”


Tiang tenda atau rumah menyangga tenda atau rumah itu agar tidak roboh, sebagaimana peran bapak menyangga keluarga atau rumah tangga. Jadi makna “mendambakan” sangat penting seperti tiang penyangga yang menjadi sumber “kekuatan rumah” itu, atau kekuatan seorang bapak yang menjadi penopang utama dalam keluarga agar tetap berdiri. Seorang yang “mendambakan” sesuatu pasti ia mengumpulkan segenap tenaga atau kekuatan untuk mendapatkannya.


Mendambakan Firman Tuhan (Mazmur 119:129-136)


Mazmur 119:131: “Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.”


“Mulutku kungangakan dan megap-megap”, itulah ungkapan dramatis Pemazmur sebagai ekspresi kesungguhannya dalam mendambakan perintah Tuhan. Dalam bagian ayat 129-135, beberapa istilah dipakai untuk menunjuk maksud yang sama, Taurat Tuhan (bandingkan ayat 136), yaitu: peringatan-peringatan (ayat 129), firman-firman (ayat 130), perintah-perintah (ayat 131), janji (ayat 133), titah-titah (ayat 134), dan ketetapan-ketetapan (ayat 135).

Mengapa ia sampai pada tingkat pendambaan seperti itu?  Dalam ayat 129 Pemazmur menyatakan bahwa peringatan-peringatan Tuhan itu ajaib. Dalam ayat berikutnya (ayat 130) tertulis, bahwa bila firman Tuhan itu tersingkap, ia memberi terang dan pengertian kepada orang-orang bodoh. Keajaiban, terang, dan pengertian itulah yang membuat Pemazmur mendambakan perintah-perintah Tuhan itu, sehingga “jiwanku memegangnya” (ayat 129).

Bagi Pemazmur, pemahaman tentang firman Tuhan itu ternyata tidak hanya pengakuan bahwa firman itu ajaib. Rasa empatinyapun terbangun tatkala ia melihat orang tidak berpegang kepada Taurat Tuhan itu. Ia menangis. Tulis Pemazmur: “Air mataku berlinang seperti aliran air, karena orang tidak berpegang pada Taurat-Mu” (ayat 136).

Dengan demikian ada alasan mendasar bagi sang Pemazmur “mendambakan” firman Tuhan, bahwa firman Tuhan itu ajaib, memberi terang, dan pengertian, serta membawanya rasa empati kepada orang lain. Mendambakan firman menjadi kekuatan jiwa sang Pemazmur, karenanya jiwanya memegangnya.

Implementasi

Seorang nenek yang berusia sekitar 70 tahun di kampung saya di Salatiga, Jawa Tengah, tidak dapat membaca tulisan satu katapun, karena ia buta huruf. Namun karena kerinduannya untuk dapat  mengerti firman Tuhan, ia belajar membaca sendiri pada usia yang tua renta. Saya melihat sendiri usahanya itu. Ia mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk belajar membaca. Setiap hari, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar membaca Alkitab. Pada mulanya, ia mengeja tiap huruf dalam setiap kata di Alkitab. Akhirnya, setelah menghabiskan waktu beberapa tahun, ia lancar membacanya. Sekarang, ia tidak dapat membaca Alkitabnya lagi karena pandangannya kabur.

Nenek itu memiliki dambaan yang kuat, sehingga usahanya itu dilakukan dengan sekuat tenaga. Dambaan itulah yang menjadi penopang kekuatannya. Saya rasa, bukan sekedar karena ia memiliki dambaan, tapi ia memiliki dambaan yang tepat, yaitu firman Tuhan. Karena dambaan itulah ia mengumpulkan segenap daya dan upaya, sehingga ia mampu mencapainya, yaitu dapat membaca firman Tuhan sendiri.

Sudahkan saya dan Anda memiliki dambaan yang tepat, yaitu firman Tuhan? Jika kita tidak mendambakannya, maka kita tidak akan menikmati firman Tuhan itu. Mendambakan firman Tuhan berarti memiliki kekuatan penopang untuk senantiasa memegangnya.

Sudahkah saya dan Anda memiliki alasan yang tepat untuk mendambakan firman Tuhan itu? Apakah kita sudah mengalami keajaibannya, terangnya, dan pengertian yang disingkapkannya?


Kalau kita sudah menikmati semua itu, apakah kita juga akan memiliki empati kepada orang lain yang tidak memegang firman Tuhan?

Sabtu, 23 November 2013

TUHAN “Memanggil”

Tuhan “Memanggil”


Kata “memanggil” di antaranya merupakan padanan dari kata Ibrani  qara’ (qof-qames-resh-qames-alef). Kata tersebut diturunkan dari akar induk kata “q-r” (qof-resh), yang di dalam tulisan Ibrani kuno masing-masing huruf membawa ide tertentu. Huruf “qof” adalah sebuah gambar matahari di ufuk barat (atau timur?) dan berarti juga pengumpulan cahaya. Sedangkan huruf “resh” adalah gambar kepala seorang laki-laki. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengumpulkan orang-orang”.


Dalam kebudayaan Ibrani seseorang mengumpulkan orang-orang  dan barang dengan cara: (1) perencanaan (2) kebetulan, dan (3) pembelian. Biasanya, orang-orang dipanggil untuk suatu pertemuan yang telah direncanakan sebelumnya, namun tidak jarang juga terjadi secara kebetulan. Sedangkan pengumpulan barang kekayaan dilakukan seseorang dengan cara membeli, termasuk budak sebagai barang kekayaan keluarga.

Dalam terang Firman Tuhan, Tuhan “memanggil” (qara ’ = ”mengumpulkan orang-orang”) orang-orang tertentu  berlaku dua cara, yaitu dengan cara direncanakan dan cara pembelian.


Pertama, Tuhan “mengumpulkan orang-orang” bukannya karena  kebetulan. Dia merencanakan orang-orang yang dipanggilNya dan menetapkan tujuanNya. Sebelum Paulus  menjadi hamba Tuhan, ia adalah penganiaya jemaat. Namun, sebenarnya ia telah dipilih Tuhan sejak dalam kandungan dan dipanggil oleh karena kasih karuniaNya ( Galatia 1:15). Paulus dipanggil untuk tujuan Tuhan, yaitu memberitakan namaNya kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel (Kisah Para Rasul 9:15).


Kedua, Tuhan “mengumpulkan orang-orang” dengan cara pembelian. Orang yang dikumpulkan dengan cara pembelian adalah budak atau hamba. Hal tersebut biasa berlaku dalam kebuyaan timur tengah kuno.  Budak dibeli dari seseorang atau sekelompok orang. Mereka diperjualbelikan di  antara pedagang, sebagaimana barang (Kejadian 37:28). Bahkan, kepemilikan budak dalam suatu keluarga menjadi ukuran kekayaan (Kejadian 24:35). Budak yang dibeli akan menjadi milik tuannya.


Jemaat Korintus, baik sebelumnya hamba atau orang bebas, telah dipanggil Tuhan dalam pelayananNya. Mereka  telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Mereka milik Tuhan. Karena itu, mereka adalah hamba Tuhan, bukan hamba manusia (bandingkan 1 Korintus 7:22-23).


Implikasi

Pertama, Tuhan telah mengumpulkan kita, orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, dengan perencanaan. Kita adalah orang-orang yang dikumpulkanNya sesuai dengan rencanaNya untuk tujuan yang ditetapkanNya. Apakah rencana dan tujuan hidup kita sudah sesuai dengan rencana dan tujuan Tuhan?


Kedua,  Tuhan telah mengumpulkan kita dengan cara dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Kita ini milik Tuhan. Oleh karena itu kita tidak memiliki hak lagi atas tubuh, pikiran, kreatifitas, kemampuan sosial, daya kerja, dan lain-lain. Segala hal yang kita miliki, bahkan segala keberadaan kita, menjadi milik Tuhan dan menjadi kekayaan Tuhan. Apakah segala sesuatu yang melekat pada diri kita masih kita kuasai menjadi hal milik kita, atau telah menjadi hak milik dan kekayaan Tuhan? Lihat, betapa berharganya kita ini, sebab kita menjadi kekayaan Tuhan!


(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber)

Senin, 30 September 2013

MENGAMPUNI

Mengampuni


נשׂא, nasa’

נשׂא= Nun-Shin-Alef

Mengampuni didalam pictograf ibrani kuno,  terdiri dari Nun-Shin-Aleh.  Yang masing masig dituliskan dalam gambar, Nun dituliskan dalam gambar biji atau aktifitas, Shin di gambarkan dengan makan atau menghancurkan , sedangkan Alef adalah kepala kerbau atau kekutan atau juga memimpin atau pemimpin,

Jadi dapat disimpulkan bahwa mengampuni adalah suatu tindakan terus menerus untuk menghancurkan kekuatan yang menjerat.  Sifat mengampuni adalah menghancurkan total semua hal yang memimpin dan mengarakan kita untuk terus menyimpan rasa sakit hati yang ada.. jadi seharusnya perjuangan yang tiada Akhir untuk menghancurkan sakit hati kita...

 

Yer 33:8  Aku akan mentahirkan mereka dari segala kesalahan yang mereka lakukan dengan berdosa terhadap Aku, dan Aku akan mengampuni segala kesalahan yang mereka lakukan dengan berdosa dan dengan memberontak terhadap Aku.

Sabtu, 28 September 2013

MENGASIHI

Mengasihi


בהא = Alev- He- Bet. (Mengasihi)

Mengasihi di dalam bahasa ibrani yaitu  “Ahab” atau “Aheb” (בהא, Alev- He- Bet)  pada penulisan Pictograf ibrani kuno yaitu “Alev” dituliskan dalam bentuk “kepala kerbau” yang berarti “kekuatan atau memimpin,”  sedangkan “He” digambarkan “orang yang sedang berseru,”  sedangkan “Bet” digambarkan dengan rumah atau masuk.  Bisa disimpulkan bahwa mengasihi tidak hanya sekedar ungkapan yang biasa saja, tetapi memimpin atau mengarahkan seseorang dengan seruan untuk mengajak kedalam rumah,  jadi mengasihi adalah mengajak seseorang untuk sepeti menjadi bagian di dalam keluarga dan saling berbagi serta saling menopang antara yang satu dengan yang lain.

1Yoh 3:18  Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.