Jumat, 07 Maret 2014

Adoniram Judson dan Ann Judson

Adoniram Judson dan Ann Judson










Adoniram Judson dilahirkan pada tanggal 9 Agustus 1788 di Bradford, Massachusetts. Dia adalah putra seorang pendeta Kongregasional. Pada usia enam belas tahun, dia memasuki Universitas Brown dan lulus setelah menjalani masa kuliah selama tiga tahun saja. Sambil mempertanyakan imannya, anak muda itu mulai memutuskan untuk "melihat dunia". Tetapi setelah kematian tiba-tiba salah seorang temannya, dia kembali pulang dan masuk ke Sekolah Seminari Andover pada usia dua puluh tabun. Di sekolah ini, dia membuat sebuah janji pengabdian sepenuhnya kepada Tuhan.


Judson muda memutuskan untuk menjadi seorang misionaris asing Amerika pertama, suatu panggilan ilahi yang ditanggung bersama dengan kekasih hatinya, Ann Hasseltine. Ann hanya berusia setahun lebih muda dari Adoniram. Pada bulan Februari 1812, Ann dan Adoniram menikah. Dua minggu kemudian, pasangan yang baru menikah ini berlayar menuju India, ditemani oleh beberapa pasangan muda lainnya.


Tetapi British East India Company bersikap kejam kepada para misionaris muda dengan memberi ancaman pemulangan ke negara masing-masing. Di tengah kebingungan akibat tidak dapat menentukan tempat pekerjaan misi dimulai, pasangan Judson akhirnya tiba di Rangoon, Burma satu setengah tahun setelah meninggalkan Amerika.


Di India, jumlah populasi orang Eropa cukup besar akibat adanya East India Company, sedangkan di Burma hanya terdapat sedikit orang asing berkulit putih. Sebagian besar rakyat Burma bidup dalam kemiskinan di bawah kekuasaan sistem kerajaan yang kejam dan berubah-ubah. Tetapi sistem kasta tidak dikenal di sana (di India, orang-orang dikelompokkan secara ketat berdasarkan kelas, ras, dan status). Bahasa Burma sangat sulit dan pasangan Judson menghabiskan waktu selama dua belas jam setiap hari untuk mempelajari bahasa itu. Hambatan terbesar dalam pernberitaan Injil adalah kepercayaan daerah yang tidak mempunyai konsep (atau bahkan kata-kata) mengenai Tuhan yang abadi atau kehidupan abadi bersama Tuhan yang dapat dialami manusia. Walaupun demikian, selama lebih dari sepuluh tabun, delapan belas orang Burma telah bertobat dan mereka merupakan cikal bakal gereja Kristen pertama di Burma.


"Demam tropis" merupakan musuh utama yang telah merenggut nyawa putra mereka, Roger, pada tahun 1815 di usia sebelas bulan (anak pertama mereka dilahirkan dalam keadaan meninggal di atas geladak kapal). Selama berbulan-bulan, demam yang mengerikan itu pun telah memaksa Ann dan Adoniram untuk tetap berada di atas tempat tidur. Tetapi Adoniram tetap berjuang hari demi hari untuk menerjemahkan Perjanjian Baru berbahasa Yunani ke dalam bahasa Burma. Akhirnya, dia dapat menyelesaikan pekerjaan itu pada bulan Juli 1823, sesaat sebelum Ann, tiba dari istirahat selama dua tahun di Amerika akibat kesehatannya yang buruk.


Pada saat itu, beberapa pasangan misionaris lainnya turut bergabung untuk melakukan misi di Rangoon. Di antara mereka, terdapat George Hough seorang ahli cetak yang telah mencetak karya terjemahan Adoniram. Juga ada dr. Jonathan Price, seorang dokter medis yang segera diperintahkan datang ke Ava, kota kerajaan, untuk merawat sang raja.


Bersama para misionaris lainnya yang bertugas memelihara gereja kecil Burma di Rangoon, Ann dan Adoniram juga pergi ke utara menuju Ava. Mereka hendak memulai sebuah misi di sana bersama kedua putri angkat mereka yang berkebangsaan Burma. Tetapi ketika perang antara Burma dan Inggris pecah pada tahun 1824, semua orang asing dicurigai sebagai mata-mata Inggris. Mereka semua dilemparkan ke dalam Penjara Maut yang mengerikan. Delapan bulan setelah Adoniram ditangkap, Ann melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamai Maria.


Setelah satu setengah tahun-berada dalam kurungan penjara, Adoniram -- seorang "Amerika" netral -- akhirnya dibebaskan untuk membantu perundingan perdamaian antara Burma dan Inggris. Tetapi tahun-tahun yang dipenuhi kesukaran, perjuangan, dan penyakit, akhirnya memakan korban. Ann meninggal pada tahun 1826 di usianya yang ke-36, saat Adoniram sedang pergi menjalankan tugas. Maria, yang berusia dua tahun, meninggal beberapa bulan kemudian.


Adoniram mencoba mengubur kepedihannya dalam hiruk pikuk pekerjaan misi, tetapi kemudian dia menghabiskan waktu selama dua tahun sebagai seorang pertapa di dalam hutan. Ketika akhirnya dia berhasil melepaskan diri dari depresi, dia menikahi Sarah Boardman, seorang janda misionaris muda yang melahirkan delapan orang anak (hanya lima orang anak yang hidup hingga dewasa). Dia meninggal setelah hidup berumah tangga bersama Adoniram selama sebelas tahun. Pada saat kembali ke Amerika, Judson menikahi Emily Chubbock muda pada tahun 1846, dan mereka kembali ke Burma. Di negeri itu, Emily menjadi ibu bagi anak-anak Adoniram dan kedua anak bayi perempuan mereka.


Tetapi kesehatan Adoniram memburuk dan dia meninggal pada tahun 1850 di usianya yang ke-61. Warisan yang ditinggalkannya adalah terjemahan lengkap Alkitab dalam bahasa Burma. Dirinya menjadi inspirasi bagi para pemuda Amerika untuk mendedikasikan hidup dalam pelayanan misi asing.


Diedit seperlunya dari:



























Judul artikel: Terpenjara di Kota Emas
Judul asli artikel: Imprisoned in the Golden City
Penulis: Dave dan Neta Jackson
Penerjemah: Lie Ping
Penerbit: Gospel Press, Batam Center 2004
Halaman: 187 -- 190

Dipublikasikan di: http://biokristi.sabda.org/ann_judson_dan_adoniram_judson


Minggu, 12 Januari 2014

N.K.I. No. 219 Harap, Bakti (Trust and Obey)

Suatu malam di pertengahan 1880-an , ketika Dwight L. Moody berkhotbah di Brockton , Massachusetts , " tim " nya , meminta kesaksian spontan dari penonton .

Seorang pemuda gugup berdiri dan menyatakan keraguan dan  niatnya : " Saya tidak yakin --- tapi saya akan percaya , dan saya akan mematuhi "  yang berarti bahwa ia tidak benar-benar yakin bahwa Allah akan menyelamatkan dia dari dosa-dosanya - dan kemudian ia melanjutkan, "Tapi aku akan percaya, dan aku akan mematuhi" - yang berarti bahwa ia berencana untuk mempercayai Tuhan untuk keselamatannya dan untuk melakukan apa yang dia bisa untuk menaati kehendak Allah.

Mendengar saksi tersebut , Daniel Towner yang adalah pemimpin lagu untuk pertemuan itu begitu terkesan dengan kesaksian pemuda itu,. Kemudian, ia menulis surat kepada temannya, John Sammis. Dalam suratnya, ia menceritakan tentang kesaksian pemuda itu dan termasuk kata-kata pemuda itu. "Saya tidak yakin, tapi aku akan percaya, dan aku akan mematuhi"

Towner mengirimkan kutipan dan deskripsi singkat dari konteksnya kepada temannya John Sammis , yang dengan cepat menulis menahan diri empat baris untuk " Kepercayaan dan Obey . " Sammis kemudian menambahkan lima ayat . Dia mengirimkan paket kembali ke Towner , yang datang dengan lagu .

" Kepercayaan dan Obey . " Selama beberapa generasi gereja , kata-kata itu begitu akrab sebagai motto King James . Dan frase telah menjadi - tema kehidupan Bruce Miller , dari Corning , New York . Lima belas tahun lalu , sama seperti ia dan istrinya sedang menghadapi kebahagiaan dan tanggung jawab menjadi orang tua pertama kali setengah baya , Bruce menderita kanker tenggorokan . Dokter punya yang di bawah kontrol. Tapi kemudian melanoma merangkak naik . Terhindar lagi. Baru-baru ini ia telah selamat gangguan jantung dan operasi bypass . Dan menderita dengan penyakit neurologis membingungkan yang lumpuh lengan dan tangannya .

Bagian kedua dari kehidupan tidak mudah , namun Bruce memilih untuk percaya sekarang dan masa depannya kepada Tuhannya . Baru-baru ini , seperti Bruce bersiap-siap untuk kembali ke pekerjaannya setelah penyakit terbarunya , dia bilang dia memilih untuk melihat kehidupan sebagai " petualangan. " Dia melanjutkan untuk menceritakan kisah dari salah satu tugas yang sangat sulit di rumah sakit . Seorang pekerja sosial datang setiap hari , memintanya putaran pertanyaan . Dia bernama suksesi " perasaan " kategori , menunggu setelah setiap kata baginya untuk menilai bagaimana perasaannya pada skala satu sampai sepuluh . Bahagia ? Tertekan ? Tegang ? Sepuluh berarti " tidak bisa lebih tinggi , " alam disediakan untuk ekstrim .

" Salah satu kategori adalah kepercayaan , " Bruce ingat . Dan setelah seminggu atau lebih , pekerja sosial renung keras saat mengamati grafik Bruce : " Ketika kami datang untuk percaya , Anda selalu memberikan sepuluh . "

Bruce tersenyum dan mengakui bahwa kepercayaan nya tidak di dokter atau resep mereka, tetapi di dalam Tuhan yang ia punya selama bertahun-tahun memilih untuk taat.

Bukan kesedihan atau kerugian ,

Tidak cemberut atau salib ,

Tapi diberkati jika kita percaya dan taat .

Kepercayaan dan taat ,

Sebab tidak ada cara lain

Untuk menjadi bahagia dalam Yesus ,

Tetapi untuk percaya dan taat .

 

Aku ingin tahu apakah penginjil Dwight L. Moody berpikir "Harap dan Bakti " ketika ia menulis ringkasan ini berjalan Kristen : . "Darah [ Kristus ] sendiri membuat kita menjaga FirmanNya , membuat kita yakin Ketaatan [ kepada Allah ] membuat kita bahagia . " Dia tampaknya akan mengatasi masalah di jantung pernyataan orang percaya baru : " . Saya tidak yakin - tapi saya akan percaya , dan saya akan mematuhi "

" Kami tidak tahu apa yang terjadi bahwa anak muda yang terinspirasi lagu yang masih mendesak orang percaya untuk mempercayai Tuhan mereka dan mematuhi ajaran-Nya . Saya memilih untuk percaya bahwa setelah pengalaman Brockton ia melihat hidup sebagai sebuah petualangan .

 

Apa cara yang lebih baik untuk hidup -

Untuk mendukung dia menunjukkan ,

Dan sukacita ia melimpahkan ,

Apakah bagi mereka yang akan percaya dan taat .

 

Tuhan , aku tidak selalu " cukup yakin " namun saya memilih untuk mempercayai ENGKAU dengan hidup saya . Saat aku berjalan di jalan ketaatan , mengisi hati saya dengan sukacita , penuh semangat mengharapkan kebaikan dan anugerah .

 

NKI No.219 Harap, bakti


 J.H. Sammis,  Daniel B. Towner



Kalau serta Tuhan kita hendak jalan
Cah’ya mulia Tuhanku b’ri
Kalau kita turut pasti kita luput
Dan segala yang harap bakti

Koor: harap bakti lalu tuhan memb’ri
Sukacita yang sangat hanya harap bakti

Tiada baying bangkit tiada awan langit
T’rang bercah’yalah matahari
Tiada bimbang takut tiada pun bersungut
Bagi orang yang harap bakti

Tidak nyata s’kalian berkat suka Tuhan
Sampai kita serahkan diri
Jiwa harta s’kalian atas mesbah Tuhan
Dan tetap dalam harap bakti

Dalam kesukaan di sertai Tuhan
Kesenangan peuh dihati
P’rintahNya ku turut jalanNya ku ikut
Dan selamanya harap bakti

Sabtu, 30 November 2013

Florence Young -- Bunga di Pulau Queensland

Florence Young -- Bunga di Pulau Queensland



Florence Young

Sekitar abad 18, kepulauan Pasifik dikenal sebagai surganya bumi pada saat itu. Banyak penjelajah dan pedagang yang singgah di kepulauan tersebut selalu terpana dengan keindahan dari kepulauan ini. Termasuk juga para penulis antara lain: William Melville, Robert Louis Stevenson, dan James Michener mengungkapkan dengan piawai melalui novel-novel tulisan mereka.


Meskipun demikian, ada banyak jiwa yang tinggal di kepulauan Pasifik tersebut sedang sekarat karena belum mengenal Kristus. Banyak lembaga misi yang rindu untuk melayani di kepulauan ini dan banyak sumber daya manusia dibutuhkan untuk mendukung penginjilan yang dilakukan. Namun para misionaris yang diutus terkadang hanya sebentar melakukan pelayanannya. Selain karena faktor geografis yang agak sulit untuk menjangkau kepulauan-kepulauan tersebut pada masa itu, faktor terbesar yang membuat penduduk menolak kehadiran para misionaris adalah karena sikap dari para pedagang dan pelaut yang singgah di wilayah ini. Mereka datang untuk mengeksploitasi para penduduk -- termasuk dengan maraknya perdagangan budak pada masa itu -- dan sumber daya alam yang ada.


Walau ada banyak kendala, banyak misionaris yang terus berjuang untuk memenangkan penduduk kepulauan ini termasuk mereka yang telah dijadikan budak di tempat-tempat lain. Salah satunya adalah Florence Young yang kesaksiannya bisa Anda simak dalam Tokoh Misi berikut ini. Bila dibandingkan dengan kepulauan lain, maka pada abad 19 (sekitar tahun 1983 -- saat buku ini ditulis), kepulauan Pasifik mempunyai prosentasi kekristenan yang tinggi.


Ironisnya, bisnis penculikan orang-orang negro atau Polinesia untuk dijadikan budak yang telah banyak menimbulkan kerusakan di kepulauan Pasific Selatan ternyata menjadi pintu gerbang utama bagi masuknya penginjilan di kepulauan Solomon. Sementara beberapa misionaris seperti John Coleridge Patteson dengan sengit menentang lalulintas tersembunyi dari bisnis "manusia" ini, namun ada beberapa misionaris lain termasuk Florence Young yang tampaknya "menerima" hal tersebut dan malah bekerja dalam sistem yang mendukung perbudakan itu.


Florence Young adalah seorang warga Sydney, Australia. Dia adalah orang yang pertama kali mengekspresikan keprihatinannya tentang kesejahteraan rohani para pekerja perkebunan di South Seas. Saudara- saudara Florence adalah pemilik Fairymead, perkebunan tebu yang besar di Queensland, dan kunjungannya ke perkebunan ini telah mengubah pandangan hidup Florence. Meskipun keterlibatan para saudaranya dengan para pedagang budak tidaklah jelas (beberapa pemilik perkebunan biasanya membuat kontrak kerja dengan badan penyalur pekerja resmi), namun yang pasti, Florence bersedia bekerja dalam sistem ini untuk mengenalkan Injil kepada para budak.


Sebagai anggota jemaat dari Plymouth Brethren, Florence Young telah mempelajari Alkitab sejak dia masih kanak-kanak dan sangat mendukung pelayanan pengajaran yang dilakukannya sejak tahun 1882. Kelas kecil pertamanya yang terdiri dari 10 budak merupakan suatu awal yang kurang menggembirakan. Namun jumlah ini terus bertambah dan tak lama kemudian, dia mempunyai 80 murid di kelas yang diadakan setiap hari Minggu. Separo dari jumlah itu datang secara rutin dalam kelompok pemahaman Alkitab yang diadakan setiap sore. Respon tersebut jauh melebihi dari yang dibayangkan Florence.


Anda bisa membayangkan kondisi para budak saat itu. Menebas batang tebu pada jam 12 siang atau selama beberapa jam setiap hari di bawah terik matahari merupakan pekerjaan yang 'mematikan'. Banyak budak meninggal karena bekerja dalam kondisi dan tekanan seperti itu termasuk Jimmie, budak pertama yang bertobat di perkebunan itu. Meskipun demikian, mereka berani mengorbankan jam-jam istiharat yang berharga untuk mendengarkan Injil.


Kesuksesan dari pelayanan Florence Young di Fairymead ini memberinya semangat untuk melakukan hal yang sama di perkebunan-perkebunan lainnya di Queensland, dimana ada 10000 budak tinggal dalam kondisi yang serupa, bahkan ada yang lebih buruk lagi. Pemberian dana kasih dari George Mueller (juga menjadi jemaat Plymouth Brethren) merupakan stimulan yang dibutuhkan Florence untuk mendirikan Queensland Kanaka Mission (Kanaka merupakan istilah yang digunakan untuk "para pekerja yang diimpor"). Florence juga mendapat dukungan dari seorang guru misionaris dan menulis surat secara rutin kepada para pemilik perkebunan yang ada di wilayahnya. Pada akhir abad 19, melalui pelayanan yang dilakukan 19 misionaris, ribuan orang telah mengikuti kursus Alkitab yang diadakan Florence dan ada yang berkeinginan untuk memberitakan Injil saat mereka kembali ke negara asal mereka.


Pada tahun 1890, Florence merasa Allah memanggilnya untuk terlibat dalam pelayanan misi ke China. Oleh karena itu, dia ikut melayani bersama China Inland Mission. Namun dia kembali lagi ke South Seas pada tahun 1900 untuk mengarahkan secara langsung pelayanan misi yang telah dirintisnya karena pelayanan ini telah mengarah ke fase yang berbeda. Hukum telah melarang perdagangan budak berkulit hitam dan sistem kerja paksa juga telah dilarang. Pada tahun 1906, banyak budak telah dipulangkan ke kampung halamannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa pelayanan Florence berhenti sampai di sini. Pelayanan Follow-up diperlukan untuk melanjutkan pelayanan yang telah dirintis tersebut. Florence dan beberapa misionaris berlayar menuju Solomon Islands dimana mereka melayani para petobat baru dan mendirikan gereja.


Pada tahun 1907, Queensland Kanaka Mission mengganti namanya menjadi South Sea Evangelical Mission. Florence dibantu oleh ketiga keponakannya -- Northcote, Norman, dan Katherine Deck sangat aktif dalam melakukan pelayanan ini. Tahun-tahun berlalu, 10 orang lebih sahabat dekatnya menjadi misionaris dan menyusul Florence ke Solomon Islands.


Diterjemahkan dan diringkas dari:


























Judul buku:From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis:Ruth A. Tucker
Penerbit:Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman:223 -- 224

Jumat, 29 November 2013

Elizabeth "Betty" Greene

Elizabeth "Betty" Greene


Elizabeth Betty Greene

 




Meskipun Betty Greene tidak menganggap dirinya sebagai pendiri MAF (Mission Aviation Fellowship), namun pada kenyataannya dialah yang bekerja paling banyak pada tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Lebih jauh lagi, dia adalah staf pekerja full- time pertama dan pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk. Meskipun dia seorang wanita, pengalaman dan keahliannya sebagai pilot tidak diragukan lagi. Betty bekerja di Air Force selama bulan-bulan pertama Perang Dunia II, menerbangkan misi- misi radar dan terakhir dia ditugaskan untuk mengembangkan beberapa proyek termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17. Namun pelayanan di dunia militer bukanlah pilihan karir Betty. Oleh karena itu sebelum PD II berakhir dia telah meninggalkan dunia militer dan memulai pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pilot misionaris.


 Betty tertarik di dunia penerbangan sejak dia masih kecil. Pada usianya yang ke-16, dia mengikuti pelajaran penerbangan. Saat masih kuliah di Universitas Washington, Betty mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan pilot pemerintah sipil. Program ini mempersiapkan dirinya untuk mencapai mimpinya menjadi seorang pilot misionaris. Dia bergabung dalam WASP (Women's Air Force Service Pilots), motivasi utamanya adalah mencari pengalaman yang nantinya akan membantu Betty dalam melakukan pelayanan misi. Pada waktu luangnya, Betty menyempatkan diri untuk menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh Inter-Varsity HIS Magazine. Artikel tersebut menjelaskan tentang pentingnya misi penerbangan dan sekaligus rencana-rencananya untuk mewujudkan impiannya itu. Tulisan Betty tersebut mendapat perhatian dari Jim Truxton, seorang pilot angkatan laut yang sedang mendiskusikan masalah misi penerbangan dengan dua orang temannya. Jim menghubungi Betty dan memintanya untuk bergabung dengan mendirikan organisasi misi penerbangan.

Tahun 1945, sesaat setelah MAF didirikan, permintaan penting datang dari Wycliffe Bible Translators untuk menolong pelayanan mereka di Mexico. Setelah beberapa bulan melayani di Mexico, Betty diminta oleh Cameron Townsend (pendiri Wycliffe), untuk menolong pelayanannya di Peru. Tugas Betty dalam pelayanan di Peru adalah menerbangkan para misionaris dan persediaan ke daerah pedalaman. Setiap kali terbang dia selalu melewati puncak-puncak pegunungan Andes, hal itu menjadikan dirinya sebagai pilot wanita pertama yang melakukan penerbangan tersebut.

Betty "mengabdikan dirinya" kepada para misionaris di Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, dan Kongo. Pada tahun 1960, Betty menjalani tugas penerbangannya yang terakhir yaitu ke Irian Jaya. Tugas tersebut tidak hanya berbahaya tetapi juga sulit karena perjalanan hutannya yang berliku-liku dan mengerikan. Untuk menerima bantuan dari misi penerbangan, setiap pos misi harus membangun sendiri tempat tinggal landas pesawat. Sebelum pendaratan dilakukan, seorang pilot yang berpengalaman harus terlebih dulu terbang melintasi wilayah tersebut untuk memastikan keadaannya. Karena sebagian besar tugas Betty adalah di udara, dia segera menyadari bahwa dia tidak dapat mengimbangi teman sekerjanya, Leona St. John, atau 8 orang suku Moni yang membawakan barang-barangnya saat menyusuri hutan di wilayah Irian Jaya. Leona dan orang suku Moni tersebut telah terbiasa dengan hujan tropis yang terjadi setiap hari, melewati jembatan dari tumbuhan yang gemerisik bunyinya, dan juga saat melalui lahan berlumpur yang sangat licin. Betty mengatakan bahwa dia tidak tahu seberapa beratnya perjalanan tersebut. Namun kelelahan fisik yang dialaminya segera tergantikan dengan ketakutan saat secara tidak sengaja rombongan Betty itu terjebak di tengah- tengah peperangan antar suku -- mereka menyaksikan pemandangan kematian dan pembunuhan yang mengerikan.

Tapi semua ketakutan dan kelelahan yang dialami dalam menempuh perjalanan itu akhirnya terobati saat Betty, Leona dan para pembawa barangnya tiba di desa tujuan mereka. Sambutan yang ramah diterimanya dari penduduk setempat dan sepasang misionaris yang telah bertugas di sana. Terlebih dari itu Betty juga menemukan tempat untuk pesawatnya mendarat. Perayaan yang sebenarnya baru terjadi keesokan harinya saat seorang pekerja MAF mendarat dengan membawa semua persediaan yang dibutuhkan. Pelayanan Betty mendapatkan banyak penghargaan. Namun pengalaman yang tak terlupakan sepanjang karirnya adalah saat dia melayani di Irian Jaya selama hampir dua tahun.

Saat Betty diwawancara pada tahun 1967 tentang apakah dia akan "mendorong seorang wanita untuk melakukan pelayanan seperti yang dia lakukan," Betty menjawab: "MAF tidak setuju, dan juga saya ... Kami memiliki tiga alasan mengapa kami tidak menerima wanita untuk pelayanan ini: 1) Sebagian besar wanita tidak terlatih dalam hal mekanis. 2) Kebanyakan tugas pelayanan dalam misi penerbangan merupakan tugas yang berat. Misalnya ada kargo besar yang harus diangkut dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh seorang wanita. 3) Fleksibilitas; misalnya, jika ada sebuah tempat yang mengharuskan seorang pilot tinggal di sana selama beberapa hari/minggu, anda tidak dapat meminta seorang wanita untuk melakukannya."

Tanpa menghiraukan kebijaksanaan MAF masa lampau tentang deskriminasi gender tersebut, sampai saat ini masih banyak wanita yang terjun dalam pelayanan misi penerbangan. Sekarang setelah lebih dari satu dekade munculnya kesadaran feminisme, kebijaksanaan MAF mengalami perubahan. Para wanita dapat diterima sebagai pilot. Baru- baru ini, Gina Jordon yang memiliki 15.000 jam terbang sebagai pilot telah meninggalkan pekerjaannya di Kanada dan bergabung dengan MAF sebagai seorang pilot untuk pelayanan di Kenya.

Diterjemahkan dan diringkas dari:


























Judul buku:From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis:Ruth A. Tucker
Penerbit:Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman:395 -- 398

Rabu, 27 November 2013

Tuhan “Benteng” Hidupku

Tuhan “Benteng” Hidupku


“Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1)


Kata “benteng” dalam ayat di atas diterjemahkan dari kata Ibrani ma‘oz (dibentuk dari huruf-huruf Ibrani: Mem-Qames-Ayin-Holem Wow-Zayin). Kata “benteng” bukanlah satu-satunya kata yang dipadankan dengan kata ma‘oz tersebut. Kata-kata seperti “tempat perlindungan” (Mazmur 31:3; Nahum 3:11), “pelindung” (Mazmur 60:9; 108:9; Yesaya 30:3 ), “perlindungan” (Amsal 10:29), dan “tempat pengungsian” (Yesaya 25:4) juga dipakai sebagai padanan dari kata ma‘oz.


Berdasarkan persamaan terjemahan itu, maka “Tuhan benteng hidupku” dapat berarti “Tuhan tempat perlindungan hidupku”, “Tuhan pelindung hidupku”, “Tuhan perlindungan hidupku”, dan “Tuhan tempat pengungsian hidupku”.


Benteng, tempat perlindungan, ataupun tempat pengungsian, merupakan tempat-tempat yang memberikan keamanan secara fisik bagi setiap orang dalam situasi perang. Benteng dan tempat perlindungan adalah tempat yang aman bagi tentara yang sedang berperang. Sedangkan tempat pengungsian adalah tempat yang aman bagi masyarakat sipil yang negaranya sedang berperang.


Tempat fisik seperti itu digambarkan oleh orang Ibrani sebagai tempat yang aman. Bagaimana halnya bila tempat perlindungannya adalah Tuhan, bukankah Dia akan memberikan perlindungan yang mutlak?


Kata-kata Ibrani lain yang seakar-induk dengan kata ma‘oz adalah ‘oz yang dipadankan dengan kata “kuat” dan “kuasa”. Orang yang mengetahui senjata, dialah yang kuat. Karena kuat, dia pula yang akan berkuasa. Kata “benteng” dan padanan lain dari kata ma‘oz seperti “tempat perlindungan”, “pelindung”, “perlindungan”, dan “tempat pengungsian”, memiliki makna yang berhubungan erat dengan kata “kuat” dan “kuasa”. Dengan demikian “Tuhan benteng hidupku” berarti juga “Tuhan kekuatan hidupku” dan “Tuhan asal kuasa hidupku.”

Bila “Tuhan kekuatan hidupku” dan “Tuhan asal kuasa hidupku”, bukankah kita tidak perlu risau, khawatir, takut, dan gemetar akan hidup kita?

Kajian Ibrani Kuno

Apa makna kata ma‘oz dilihat dari tulisan-gambar Ibrani kuno? Kata ma‘oz berasal dari akar-induk kata ‘z (Ayin-Zayin). Huruf Ayin pada awalnya adalah sebuah gambar mata, yang berarti pengetahuan, sebagaimana fungsi mata untuk melihat segala sesuatu yang ada di sekitarnya dan menjadi sumber pengetahuan. Sedangkan huruf Zayin adalah sebuah gambar alat pemotong (senjata). Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengetahui sebuah senjata.”

Dalam peperangan, pengetahuan tentang senjata adalah hal yang penting. Seorang tentara yang dapat memilih dan menggunakan sebuah senjata secara tepat akan menolongnya berhasil dalam pertempuran. Sebab ia dapat memakainya sebagai alat untuk menyerang dan melindungi diri dari musuh.

Jika kita menjadikan Tuhan sebagai senjata dalam hidup kita, bukankah kita akan terlindung dari serangan musuh dan kuat untuk menyerangnya?

Perlindungan Tuhan

Perlindungan Tuhan dalam Mazmur 27 digambarkan dengan dua ungkapan: “Tuhan adalah bentengku” (ayat 1) dan “Ia melindungi aku dalam pondokNya” (ayat 5). Ungkapan itu untuk menjelaskan bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan (bandingkan ayat 9).

Makna “Tuhan adalah bentengku” (sudah dipaparkan di atas) sejajar dengan “Ia melindungi aku dalam pondokNya.” Dalam budaya orang Ibrani kuno, tenda atau pun rumah di samping sebagai pelindung bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya, juga pelindung bagi orang asing yang datang dari jauh. Budaya seperti itu dipelihara hingga waktu-waktu yang kemudian (misalnya: kisah orang Lewi di Gibea Benyamin dalam Hakim-hakim 19).

Dengan demikian sungguh beralasan ketika Daud menyatakan bahwa dirinya tidak harus takut dan gemetar terhadap musuh, sebab Tuhan adalah pelindungnya, kekuatannya, dan senjatanya.

Implikasi

Seorang rekan melayani di sebuah gereja di Kalimantan. Ia mengunjungi sebuah keluarga dan tuan rumah menghidangkan segelas minuman untuknya. Pada saat ia mengambil gelas untuk meminumnya, tiba-tiba gelas itu pecah. Tuan rumah mengambilkan segelas minuman lagi dan ketika rekan tersebut mengambil untuk meminumnya, gelas itu pecah lagi. Segelas minuman ketiga dihidangkan lagi, dan gelas itu tidak pecah saat ia mengambil untuk meminumnya.

Beberapa hari kemudian kepala keluarga tersebut mendatangi rekan saya dan menanyakan tentang jimat yang ia miliki. Sebab, pikirnya, rekan saya tersebut seorang yang sakti. Rupanya, keluarga tersebut menghidangkan segelas minuman yang sudah dibubuhi racun dan memanterainya. Minuman di gelas ketigalah yang tidak dibubuhi racun dan diucapkan mantera.  Rekan saya itu menjawab bahwa ia memiliki Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa untuk melindunginya.

Serangan musuh berasal dari mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Apakah saya dan Anda telah menjadikan Tuhan Yesus benteng, pelindung, kekuatan, tempat pengungsian, sumber kuasa dan senjata hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber).

Selasa, 26 November 2013

MENDAMBAKAN

“Mendambakan” Firman Tuhan


Kata “mendambakan” diterjemahkan dari kata Ibrani y’b (disusun dari huruf-huruf Ibrani Yod-Alef-Bet; dapat dibaca yaab), yang diturunkan dari akar-kata induk ’b (Alef-Bet). Dalam piktograf Ibrani kuno, huruf Alef adalah lambang kekuatan, sedangkan huruf Bet adalah lambang tenda. Gabungan dua gambar tersebut berarti “kekuatan rumah.”


Tiang tenda atau rumah menyangga tenda atau rumah itu agar tidak roboh, sebagaimana peran bapak menyangga keluarga atau rumah tangga. Jadi makna “mendambakan” sangat penting seperti tiang penyangga yang menjadi sumber “kekuatan rumah” itu, atau kekuatan seorang bapak yang menjadi penopang utama dalam keluarga agar tetap berdiri. Seorang yang “mendambakan” sesuatu pasti ia mengumpulkan segenap tenaga atau kekuatan untuk mendapatkannya.


Mendambakan Firman Tuhan (Mazmur 119:129-136)


Mazmur 119:131: “Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.”


“Mulutku kungangakan dan megap-megap”, itulah ungkapan dramatis Pemazmur sebagai ekspresi kesungguhannya dalam mendambakan perintah Tuhan. Dalam bagian ayat 129-135, beberapa istilah dipakai untuk menunjuk maksud yang sama, Taurat Tuhan (bandingkan ayat 136), yaitu: peringatan-peringatan (ayat 129), firman-firman (ayat 130), perintah-perintah (ayat 131), janji (ayat 133), titah-titah (ayat 134), dan ketetapan-ketetapan (ayat 135).

Mengapa ia sampai pada tingkat pendambaan seperti itu?  Dalam ayat 129 Pemazmur menyatakan bahwa peringatan-peringatan Tuhan itu ajaib. Dalam ayat berikutnya (ayat 130) tertulis, bahwa bila firman Tuhan itu tersingkap, ia memberi terang dan pengertian kepada orang-orang bodoh. Keajaiban, terang, dan pengertian itulah yang membuat Pemazmur mendambakan perintah-perintah Tuhan itu, sehingga “jiwanku memegangnya” (ayat 129).

Bagi Pemazmur, pemahaman tentang firman Tuhan itu ternyata tidak hanya pengakuan bahwa firman itu ajaib. Rasa empatinyapun terbangun tatkala ia melihat orang tidak berpegang kepada Taurat Tuhan itu. Ia menangis. Tulis Pemazmur: “Air mataku berlinang seperti aliran air, karena orang tidak berpegang pada Taurat-Mu” (ayat 136).

Dengan demikian ada alasan mendasar bagi sang Pemazmur “mendambakan” firman Tuhan, bahwa firman Tuhan itu ajaib, memberi terang, dan pengertian, serta membawanya rasa empati kepada orang lain. Mendambakan firman menjadi kekuatan jiwa sang Pemazmur, karenanya jiwanya memegangnya.

Implementasi

Seorang nenek yang berusia sekitar 70 tahun di kampung saya di Salatiga, Jawa Tengah, tidak dapat membaca tulisan satu katapun, karena ia buta huruf. Namun karena kerinduannya untuk dapat  mengerti firman Tuhan, ia belajar membaca sendiri pada usia yang tua renta. Saya melihat sendiri usahanya itu. Ia mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk belajar membaca. Setiap hari, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar membaca Alkitab. Pada mulanya, ia mengeja tiap huruf dalam setiap kata di Alkitab. Akhirnya, setelah menghabiskan waktu beberapa tahun, ia lancar membacanya. Sekarang, ia tidak dapat membaca Alkitabnya lagi karena pandangannya kabur.

Nenek itu memiliki dambaan yang kuat, sehingga usahanya itu dilakukan dengan sekuat tenaga. Dambaan itulah yang menjadi penopang kekuatannya. Saya rasa, bukan sekedar karena ia memiliki dambaan, tapi ia memiliki dambaan yang tepat, yaitu firman Tuhan. Karena dambaan itulah ia mengumpulkan segenap daya dan upaya, sehingga ia mampu mencapainya, yaitu dapat membaca firman Tuhan sendiri.

Sudahkan saya dan Anda memiliki dambaan yang tepat, yaitu firman Tuhan? Jika kita tidak mendambakannya, maka kita tidak akan menikmati firman Tuhan itu. Mendambakan firman Tuhan berarti memiliki kekuatan penopang untuk senantiasa memegangnya.

Sudahkah saya dan Anda memiliki alasan yang tepat untuk mendambakan firman Tuhan itu? Apakah kita sudah mengalami keajaibannya, terangnya, dan pengertian yang disingkapkannya?


Kalau kita sudah menikmati semua itu, apakah kita juga akan memiliki empati kepada orang lain yang tidak memegang firman Tuhan?

D.L. Moody

D.L. Moody


D.L. Moody




Dwight L. Moody dilahirkan di Northfield, Massachusetts, pada tanggal 5 February 1837 dari pasangan Edwin Moody dan Betsey Holtom. Ayahnya bekerja sebagai seorang tukang batu. Ayahnya meninggal saat Moody masih kecil dan dalam masa kesusahan mereka. Sejak itu ibunyalah yang bekerja keras membanting tulang untuk membesarkan anak-anaknya menjadi orang-orang dewasa yang baik.


Masa kecil Moody dilalui sebagaimana anak-anak kecil lain di tempatnya. Ia bersekolah, dan pada musim panas ia bekerja untuk menggembalakan lembu tetangganya dengan upah satu sen sehari. Moody merupakan anak yang periang dan humoris, tapi juga terkadang nakal dan menjadi pengacau di kelasnya. Sampai suatu saat Moody berhadapan dengan gurunya yang menegur perbuatan Moody dengan kasih dan teguran itu membuat Moody menyadari kesalahannya.


Moody kecil tidak terlalu berminat terhadap masalah agama, tetapi ibunya Betsey selalu tekun mengajar anak-anaknya untuk berdoa dan menepati janji. Dari masa kecilnya tidak ada tanda atau peristiwa yang menunjukkan bahwa Moody akan dapat berbuat demikian mengagumkan di kemudian hari.


Saat beranjak dewasa ia pindah ke Boston untuk bekerja di perusahaan sepatu pamannya sebagai pelayan toko. Ia memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha yang sukses dan mulai belajar seluk beluk perusahaan. Di kota inilah ia mulai mengalami pertumbuhan rohani ketika berjemaat di Gereja Mount Vernon. Pada tanggal 20 September 1856 Moody pindah ke Chicago untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan untuk mengikuti bimbingan Allah. Pekerjaannya tidak jauh dari pekerjaan sebelumnya yakni di toko sepatu. Ia suka sekali bersosialisasi dengan orang-orang baru terutama orang-orang yang merantau.


Ia pun memulai pelayanannya dengan membagi-bagikan brosur dan selebaran serta mengajak orang-orang untuk menghadiri kebaktian gereja. Ia juga membuka Sekolah Minggu dengan tujuan untuk menyelamatkan anak-anak di bagian kota yang buruk. Banyak anak nakal yang tadinya menentangnya diajaknya bergabung dan mereka menuruti ajakannya dan bertobat. Pekerjaannya pun juga semakin membaik.


Moody mulai berkonsentrasi penuh dalam melayani Tuhan, di tahun 1860 ia mengambil keputusan untuk meninggalkan bisnisnya. Ia mulai mengadakan kebaktian-kebaktian minggu malam untuk anak-anak dan bergabung dengan Young Men's Christian Association (YMCA) di Chicago. Pelayanannya pun semakin berkembang dan untuk menampung kebaktian orang-orang yang dilayaninya ia mendirikan Illinois Street Church.


Pada masa perang saudara meletus, Moody juga terjun memberitakan Injil ke kemah-kemah prajurit dan mengadakan kebaktian-kebaktian. Sampai- sampai ada resimen yang disebut resimen YMCA karena terdiri dari orang-orang Kristen yang taat.


Pelayanannya ke Inggris dimulai pada tahun 1867 dan ia mengunjungi beberapa tempat di sana serta Irlandia. Di tempat inilah Moody bertemu dengan seorang pendeta muda bernama Harry Moorehouse yang meminta Moody agar diijinkan untuk berkhotbah di gerejanya di Chicago. Awalnya Moody menilai bahwa pemuda tersebut belum cakap dalam berkhotbah tapi pada akhirnya ia mengijinkan Harry untuk berkhotbah di gerejanya. Ternyata tidak seperti yang dipikirkannya Harry mampu membawakan khotbahnya dengan sangat mengesankan selama tujuh hari berturut-turut dari pasal yang sama Yohanes 3:16 dengan pewahyuan yang selalu baru. Hal ini mengubah cara Moody berkhotbah dan dia semakin rajin menyelidiki Alkitab.


Dalam pelayanannya banyak orang yang membantu Moody, termasuk Ira D. Sankey seorang yang memiliki talenta dalam menyanyi, yang tadinya sudah bekerja sebagai pegawai negeri di bidang pajak. Kemudian ia diajak Moody untuk full time sebagai pemimpin pujian dalam pelayanannya. Sankey meminta waktu untuk berpikir dan akhirnya menerima tawaran tersebut. Bersama-sama mereka menjadi pasangan yang luar biasa dalam mengabarkan Injil.


Tanggal 8 Oktober 1871 terjadi kebakaran besar di Chicago. Illinois Street Church dan Farewell Hall tempat Moody melayani selama bertahun- tahun turut terbakar. Namun Moody tidak putus asa. Ia segera mencari dukungan dari berbagai pihak untuk menolong para korban kebakaran dan gerejanya. Bantuan pun segera mengalir dari berbagai pihak, usahanya tidak sia-sia karena 2,5 bulan kemudian didirikan bangunan sementara yang letaknya tak jauh dari bangunan terdahulu dan dinamakan North Side Tabernacle. Semakin banyak orang datang ke kebaktian yang diadakannya di tempat tersebut.


Tahun 1873-1875, D.L. Moody kembali mengunjungi Inggris, dan mengunjungi kota-kota yang ada di sana. Di setiap tempat yang ia kunjungi beratus-ratus orang bertobat dan diselamatkan. Banyak surat kabar merekam peristiwa kebaktian yang dipimpin oleh D.L. Moody. Ia juga selalu melibatkan hamba-hamba Tuhan lokal dari berbagai aliran untuk membantu pelayanannya.


Khotbahnya yang terakhir adalah di Kansas, Missouri, di gedung Convention Hall yang berkapasitas 15.000 orang. Ia berkhotbah dari Lukas 14:16-24 tentang perumpamaan orang-orang yang berdalih. Setelah itu Moody jatuh sakit dan tidak bisa melanjutkan pelayanannya. Kemudian ia pulang kembali ke kotanya Northfield untuk beristirahat. Di kotanya inilah Moody menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan membawa kedamaian surgawi pada tanggal 22 Desember 1899. Dia menorehkan kenangan manis bagi keluarganya dan setiap orang yang pernah dilayaninya.
























Sumber:
Judul Buku:Riwayat Hidup D.L. Moody
Penulis:AP. Fitt
Penerbit:Christian Literature Crusade